Anak Muda di Oba Tengah Kepulauan Tidore

ARTIKEL
No : / 01-KOMSOS/11/05/2014

BIDANG : Komunikasi Sosial (KOMSOS)
PERIHAL : Generasi Muda Oba Tengah

A. PENDAHULUAN
Tinjauan Umum Lokasi
Letak Poskotis Subkorwil Tidore yang strategis merupakan salah satu nilai plus yang membuat seluruh anggota tim dapat berinteraksi langsung dengan masyarakat. Dekat dengan perkampungan, pelabuhan dan juga beberapa sekolah. Pada kesempatan kali ini, tim Komsos tertarik untuk mengetahui bagaimana tingkat kemampuan murid yang ada di Sekolah Menengah Atas (SMA).
Pilihan jatuh pada SMA Muhammadiyah 1 Tikep. Sekitar 3 km ke arah selatan dari Desa Loleo. Tepatnya di Desa Akelamo, Kec. Oba Tengah, Kota Tidore Kepulauan. Salah satu desa yang penduduknya memproduksi gula aren. Selain letaknya yang paling dekat dengan Poskotis, sekolah ini berbeda dengan sekolah berbasis islam yang biasa ditemui di Pulau Jawa. Di sekolah ini, murid non-muslim pun diperkenankan untuk menuntut ilmu. Tentunya dengan beberapa peraturan yang ditentukan.

B. ISI
“Give me ten youths, then I will shake the world,” itulah selarik kalimat yang pernah dilontarkan oleh Presiden pertama Indonesia, Soekarno. Kata-kata itu semakin menyadarkan kita bahwa generasi muda adalah sumber kekuatan sebuah bangsa. Seperti yang sering diucapkan oleh para pengajar, “Generasi muda adalah penerus bangsa”. Oleh karena itu, tim merasa perlu untuk mengetahui bagaimana kondisi generasi muda yang ada di Pulau Halmahera, khususnya Oba Tengah.
Kelas motivasi menjadi agenda utama dalam kegiatan ini. Kelas dimulai dengan acara nobar (nonton bareng) film motivasi, yaitu Sang Pemimpi, pada hari Jumat, 9 Mei 2014. Sebuah film yang diangkat dari sebuah novel adaptasi karya Andrea Hirata. Bercerita tentang dua orang anak, Arai dan Ikal, yang berusaha mencapai mimpi mereka. Berlatarbelakang hal tersebut, kami memilih film ini. Dengan harapan, setiap murid dapat semakin termotivasi untuk mewujudkan apa yang menjadi cita-cita.
Benar. Efek positif yang ditularkan dari Sang Pemimpi terlihat keesokan harinya. Satu per satu dari mereka berani maju dan mengeluarkan pendapat. Bertanya seputar cita-cita mereka. Seperti yang ditanyakan oleh Inka Christie, salah seorang murid kelas X yang bercita-cita ingin menjadi bidan, “Apa mungkin seseorang yang berasal dari keluarga kurang mampu, yang hidup di desa, dapat mencapai mimpinya?” tanyanya.
Faktor ekonomi memang terkadang menjadi kelemahan terbesar orang Indonesia dalam hal pendidikan. Tapi itu dulu, sekarang beasiswa ‘berkeliaran dimana-mana. Kuncinya satu, niat dan semangat. Begitulah yang kami ucapkan untuk kembali mendongkrak semangat mereka untuk meraih cita-cita.
Perasaan haru itu mendadak muncul. Ternyata mereka punya berbagai mimpi yang menakjubkan. Sebutlah Said Nursyi Safaat, seorang siswa kelas XI IPA dengan celana changcutersnya. Sekilas dia terlihat seperti seorang siswa yang bandel, konyol dan sukar diberitahu, tapi di balik itu semua, mimpinya luar biasa. Sempat besar di Balikpapan selama 4 tahun, menyaksikan kerja keras penduduk pribumi di tambang minyak bumi, membuat dia ingin menjadi Pengusaha pengolah minyak bumi. “Agar Indonesia tidak perlu lagi mengelola hasil kekayaannya di negeri orang,” tuturnya.
Tidak hanya itu. Masih ada mimpi-mimpi luar biasa yang lain. “Bangunan pertama yang ingin saya buat adalah gereja,” begitu yang dituturkan Frangky Pareda, seorang siswa kelas X, calon arsitek dari Oba Tengah. Selain itu, ada juga Stenly. Seorang siswa kelas X yang bercita-cita menjadi seniman, khususnya pelukis. Seorang non-muslim yang sangat suka menggambar kaligrafi. Istimewa sekali bukan.

C. KESIMPULAN
Setiap orang mempunyai mimpi. Yang membedakan hanyalah, ada yang mau memperjuangkan sampai titik darah penghabisan dan ada yang menyerah begitu saja ketika gagal. Mereka, putra daerah dari Oba Tengah, adalah calon orang-orang sukses. Terlihat dari pancaran semangat mereka ketika mengikuti rangkaian kegiatan selama dua hari. Semangat Arai dan Ikal ada pada jiwa mereka.
Kelas motivasi dan Public Speaking seperti ini perlu diberikan di daerah-daerah yang jauh dari modernisasi. Dikarenakan pengetahuan mereka yang masih kurang dan kemampuan berbicara yang belum cukup baik.

“Bermimpilah setinggi langit, karena ketika jatuh, kalian akan jatuh diantara bintang-bintang.”
Soekarno, Presiden RI yang pertama

Facebook Comments