Bocoran Judul Buku ” Ekspedisi dan 1000 Kenangan”

Untuk Bab 3

Tak ada kata “Tak” bagi Tuhan

Apa yang salah padaku, apa yang kurang dengan semua berkas yang ku kirim. Sampai hati panitia yang tak meloloskan namaku dalam tahap administrasi Ekspedisi Maluku dan Maluku Utara 2014.
Penantianku rasanya sia-sia beberapa hari ini. Yang ku usahakan selama ini tak ada nilainya, Doaku pun terasa percuma. Separuh kepercayaanku pada diri sendiri seakan sirna sudah. Aku tak bisa mengingat lagi betapa aku sangat berharap lebih dari apapun juga ketika menunggu hasil seleksi tahap administrasi ekspedisi ini. Dan ketika tiba waktunya aku tak mendapati namaku ada dalam daftar peserta yang lolos, bahkan diantara 99 mahasiswa yang tertulis di website.
Aku patah hati.
@

“Yas, aku mau ngomong serius nih, kamu lagi nggak sibuk kan?” ucapku dalam telephon ketika panggilan tersambung.
“Nggak, emang ngomongin apaan, tumben!”
“ Yas, Please jawab pertanyaanku dengan jujur ya?”
“Iya, apaan?”
“Tapi kamu jangan tersinggung ya?” tanyaku lagi untuk ketiga kali
“Iya nataaaaa..sebenarnya kamu mau ngomongin apaan sih, bertele-tele banget deh. Apaan?” tyas kelihatanya mulai geram.
“Yas, Aku nggak lolos tahap Administrasi Ekspedisi 2014?”
“Tuh kan aku bilang juga apa!, seleksinya ketat nat”
“Iya, tapi aku belum juga puas Yas. Aku masih berharap bisa terlibat”
“Ya sudah nggak apa-apa kan, mungkin belum takdirnya kali!” Ucap Tyas enteng.
“Aku serius yas?”
“Iya Nat, terus kenapa?”
“Karena mungkin aku nggak lengkap kali yah persyaratannya!”
“Bisa jadi. Tapi mungkin juga karena dalam berkasmu kan nggak ada pendukung pengalaman berupa sertifikat nat”
“Iya juga sih, tapi ngomong-ngomong kamu mengirimkan berkasnya kan ke kantor pusat?” tanyaku hati-hati
“Iyalah. Masa aku buang ke tong sampah, kan tega banget!”
“Serius Yas, dah kamu kirim?”
“Iya nat, masa kamu nggak percaya aku sih?”
“Bukan apa-apa yas, kecewa aja. Oh iya, ngomong-ngomong sama surat rekomendasi dan HSSnya juga kan kemarin?”
“Iya nata sayangsemua yang kamu kasih ke aku. Sama semua yang aku dapat dari staf sudah aku kirim semua kok”
“Emang kemarin lewat apa kirimnya yas?”
“Emosi juga deh, kayaknya kamu nggak percaya banget sih sama aku!” aku dengar suara tyas mulai meninggi, sepertinya dia memang marah atas sikapku
“Maaf yas, aku penasaran aja, aku cuma pengen tau. Kamu tinggal bilang kan?”
“JNE, habisnya 64 ribu. kenapa? Mau kamu kroscek, silahkan aja?”
“Nggak kok yas, maaf Yasmaaf dan makasih ya!”
“Iya sama-sama, ada yang lain?” tanyanya ketus
“Nggak yas, sudah?”
“Puas? Kenapa harus salaahin orang lain sih kalau kamu nggak masuk! Aku kan sudah usaha ngebantu kamu sebaik mungkin dan sebisaku. Tapi kalau sikap kamu kaya gitu ya bikin makan hati doang. Kerasa nggak dihargain banget!”
“Iya Yas, aku minta maaf. Ngomong-ngomong kurangannya nanti ya aku gantinya, kalau aku balik semarang lagi. Oh iya, udah dulu ya Yas, nih dipanggil Mimi” ucapku beralasan, mencoba mengakhiri panggilan.
“Iya, nggak apa-apa. Tapi jangan sering-sering juga”
“Heeeee.iya Yas okey. Makasih ya?” ucapku tulus dan mengakhiri percakapan diantara kita. Lalu ku tutup panggilan telphonku.
Rasanya aku masih belum menerima keputusan panitia ekspedisi yang tanpa melibatkanku sebagai pesertanya, tanpa mencantumkan namaku dalam daftar calon anggotanya. Aku marah, kecewa. Aku butuh alasan kenapa bisa namaku tak masuk, mengapa begini? Apa yang terjadi? Walau dalam hati tak bisa dipungkiri. Aku memang belum pantas untuk diikutsertakan karena tak ada skill yang menunjang, yang ku punya untuk andil dalam kegiatan itu. Tapi aku ingin ikut
Aku membuat diriku seakan paling menyedihkan, entah apa yang ku pikirkan. Rasanya tak dilibatkan dalam ekspedisi seakan seperti kejatuhan bom atom. Aku harus siapkan berbagai alasan saatnya tiba lagi disemarang, aku sangat yakin akan banyak sekali pertanyaan yang akan dilayangkan kepadaku perihal tidak jadinya aku dalam ekspedisi. Aku sangat hafal keadaanku seperti ini. Aku sangat benci saat aku jadi sosok naïf. Yang munafik, mengingkari apa yang terjadi sebenarnya. “Maafkan aku”, aku berkata pada diriku sendiri.
“Slmt yaa.nma kalian trcantum dlm dftr psrta Expdc 14 yg lo2s thp admnstrsiOleh2 y jgn lupa y.”
Ku coba menghibur diriku sendiri dengan mengirimkan pesan ucapan selamat kepada senior dan temanku yang namanya ada dalam daftar peserta yang lolos selesksi Ekdpedisi NKRI 2014 Maluku dan Maluku Utara dalam tahap administrasi. Walau sakit rasanya tak terkira, sesal sendiri dalam hati tapi semuanya tak ada arti karena semuanya telah terjadi dan sampai kapanpun tidak mungkin rasanya tiba-tiba namaku ada dan tercantum secara mendadak. Walau seribu kali ku mencari dan berharap.
Kini aku harus tabah dan menerima semua yang terjadi dalam hidupku. Aku harus tetap tersenyum. Aku juga harus bisa bersikap dewasa dan berfikir jauh kedepan karena Masih ada tahun esok. Dan tak boleh trelewatkan, aku akan buktikan aku akan datang kembali mendaftar.
@

Indramayu, 31 Januari 2014
Aku bisa merasakan kebahagiaan yang dalam. Kebahagiaan yang baru ku rasakan seperti ini, yang berbeda. Aku tak tau bagaimana bisa kulukiskannya lewat kata, menjadi orang yang beruntung diberi kesempatan untuk menjelajah keluar jawa. Ini sepertinya mimpi baikku, ya aku sadari semuanya tak ada kata “Tak” bagi Tuhan saat kita meminta, saat itu bisa dikabulkannya. Dan terjaringnya aku dalam tahap administrasi Ekspedisi inipun berkatnya. Aku yang selalu berdoa dan tak henti memohon untuk bisa lolos. Alhasil, Allah ternyata memang maha mendengar dan penyayang. Alhamdulillah.
Aku tersenyum sendiri, bahagia karena mimpiku tinggal beberapa jengkal kaki lagi. Dan aku janji akan memberikan yang terbaik. Aku bersyukur dalam doa, Ruang untukku tenyata masih ada. Walau sempat putus asa dan tak terima dengan hasil yang sudah ada. Ternyata tuhan memang nggak tidur. Akupun rupanya sudah salah karena sempat mengira panitia tak adil karena tak melibatkanku. Dan orang pertama yang aku beritahu adalah Tyas, tak ada yang lain. Dialah yang pertama harus tahu kabar gembira ini. Berkat dia jugalah namaku bisa terdaftar diurutan ke 101 peserta Ekspedisi yang dinyatakan lulus dalam tahap administrasi.
“Tyas, ada kabar baik nih?” ucapku mengawali percakapan kita dalam telephon
“Makan-makanya dong?” balasnya kemudian
“Iya, besok aku traktir makan gado-gado deh!”
“Serius nih? Yang bener ah, tumben amat” ledeknya
“Iyalah, apa sih yang nggak buat kamu?”
“Em, okelah kalau begitu. Emang kamu kesemarang kapan?”
“Besok, Insyaallah”
“Oh ya, kabar baiknya emang apaan?”
“Aku lolos Yas, aku lusa kebandung buat ikuti tes dan pembekalannya”
“Lolos apaa?”
“Ekspedisi NKRI 2014 lah? Terus apa lagi?”
“Ah yang benar aja! Nggak percaya aku. Lagian kemarin kamu sendiri kan yang bilang kalau namamu nggak ada dari 99 peserta yang lolos tahap administrasi”
“Iya kemarin namaku memang nggak ada yas, tapi Tuhan rupanya sayang padaku, makanya sama panitia jumlah peserta yang lolos jadi ditambahkan. Dari 144 peserta yang lolos tahap administrasi namaku yang ke 101 yas, aku serius!” ucapku bersemangat
“Owgh, syukurlah kalau begitu. Aku juga ikut senang!”
“Bener nih ikut senang?”
“Iya Nat, walau gimanapun kan itu harapanmu, mimpimu!”
“Sayang tyas”
“Iya, sama. Tapi ngomong-ngomong kamu udah dapet ijin ortumu Nat?” tanyanya kemudian, mengingatkan ku akan keadaan kedua orang tuaku.
“haduh, aku sampai lupa Yas”
“kalau begitu, secepatnya kamu sampaikan. Ijin sama mereka”
“Oke, doakan saja yah semoga bisa?”
“Aamiin..tapi orang tuamu kan terlahir dari zaman batu, kolot dan fanatik lagi. Apa mungkin kamu diijinkan. Sudah tempatnya jauh luar jawa harus ijin cuti dan ninggalin kuliyaah pula, emang bisa?” ejeknya diseberang.
“Iya juga sih, tapi aku akan coba yas. Nanti bantu ngeyakininya ya? Please?”
“Iya deh, masa sih sahabat minta tolong menolak!”
“makasih banyak Yas” ucapku tulus
“Iya, sama-sama. Oh iya, udah dulu ya nat. nih aku dikampus dan mau jalan pulang kos, nanti kabari lagi hasilnya ya?”
“Sip, hati-hati”
“Okey!” percakapan terhenti diantara aku dan Tyas.
Benar memang, kita tak akan pernah tahu apa yang akan terjadi esok bahkan satu jam dari sekarang sekalipun. Kita sebagai manusia harus siap menghadapi kemungkinan menangis atau tertawa, kenyataan itu ada ditangan kita. Kita yang memutuskan terluka atau bahagia. Dan aku tak ingin berdiam dan pasrah, mengalah hingga tak tau apa yang aku dapatkan satu jam dari sekarang.
Aku menunggu beberapa saat, menunggu saat yang tepat untuk berbicara pada kedua orang tuaku perihal Ekspedisi. Aku mencoba memikirkan beberapa kata yang bisa ku jadikan senjata mendobrak hati mereka hingga nanti mengijinkanku mengikuti kegiatannya. Dalam hati terus berdoa, ya Tuhan tolonglah aku, buat mereka iba dan mengiyakan keinginanku.
Menungguku bukan berarti tak melakukan apa-apa, aku mencoba mendekati hati mereka dengan melakukan hal-hal baik dirumah kita. Aku melakukan apapun yang sekiranya ku bisa. Dimulai dari membersihkan seluruh ruangan yang ada dirumah, menyapu dan mengepelnya, merapikan barang-abarang dan mainan adikku, mengelap meja dan kaca jendela, menyapu halaman rumah, sampai membersihkan daerah kamar mandi dan menguras baknya. Tak butuh waktu lama ku selesaikan pekerjaan itu, hanya dengan 4 jam semuanya beres dan rapi.
Dan ku fikir sekarang adalah saat yang tepat, dimana aku sudah cukup dewasa untuk pergi ke tempat yang jauh sendiri, hingga tak ada alasan lagi bagi mereka untuk menolaknya. Dan ku tahu siapa orang pertama yang harus ku dekati.
“Mi, Yayu mau izin ikut Ekspedisi ya?” ucapku hati-hati mengawali pembicaraan
“Emang Ekspedisi apa yu?” tanyanya balik, menatapku penasaran
“Kegiatan Sosial mi, tempatnya dimaluku dan Maluku utara”
“Apa? Nggak boleh!” ucapnya kemudian
“Idih, katro banget deh. Orang belum selesai ngomong juga!”
“Iya pokoknya nggak bisa, ngapain coba kegiatan soSial pakai jauh gitu tempatnya, emang di Jawa nggak ada tempat lagi?” komentarnya panjang kali lebar
“Mi, ini kegiatan di panitiai KOPASSUS, jadi aman”
“Belum tentu, disana itu jauh Yu. Rawan juga tempatnya!”
“Ah, mimi sok tau deh, yayu tuh bukan sendiri lagi disana. Ada banyak mahasiswa se Indonesia yang tergabung mi, lagian juga dikawal sama bapak TNI dan Polisi Mi, please boleh yaaaaa..” pintaku
“Izin aja sana sama bapakmu, pasti dia juga akan melarang!” ucapnya mencibir, lalu pergi meninggalkan ku dengan kekecewaan.
Kali ini ku berlari kearah ayahku yang sedang menonton berita ditelevisi. Ku dekati sosoknya.
“Apa? mau minta uang semesteran?” ungkapnya menuduh
“Ampun deh, belum juga ngomong udah di suudzonin dulu!” balasku pura-pura marah.
“Terus?” tanyanya kemudian
“Mau ijin ke Maluku Ma, boleh ya?”
“Ngapain kamu kesana?”
“Ikut Ekspedisi NKRI ma, kegiatannya bagus ma”
“Nggak usah ikut, kuliyah aja yang bener. Skripsi tuh kelarin dulu baru nanti mau ikut apa juga boleh!”
“Tapi ini kegiatan bergengsi Ma, lagian juga membantu skripsi Yayu kok. Ma boleh ya?”
“Kuliyah kamu giman?”
“Cuti, fakultas yang ngerekomendasikan Ma. lagian Yayu juga sudah ijin Dosen Walinya juga kok” ucapku sesaja sedikit berbohong.
“Pendaftarannya berapa?”
“Gratis Ma, ini acara yang dipanitiai Kopassus mana mungkin bayar segala. Malah yang ada kita yang ikut nanti akan diberi uang makan dan uang saku kok”
“Ada berapa orang yang dari kampus?” Tanya Ayahku lagi
“Tiga orang Ma, tapi ini yang ikut ratusan Ma. Yang terdiri dari Mahasiswa se-Indonesia, Bapak TNI dan Polisi juga, boleh ya Ma..ini kegiatannya bergengsi kok!”
“Coba bilang Ibumu dulu!” perintah Ayahku.
“Emang kegiatannya berapa lama?” Tanya Ibuku mengagetkan
“Empat bulan mi, hitung-hitung yayu lagi KKN atau semacam baksos gitu. Boleh ya Mi, Ma.tolong lah..?” ucapku merajuk.
“Kapan berangkat”?
“Besok, boleh nih?” tanyaku gembira
“iya, tapi awas aja kalau sampai terjadi apa-apa mama sudah peringatkan. Kamu harus bisa jaga diri baik-baik, sudah besar. Jadi tau yang baik dan buruknya. Ingat Yu. Semua orang hampir sama kelihatannya. Yang membedakan adalah perbuatannya. Yayu harus hati-hati, waspada dan jangan sampai tertipu sama kebaikan kecil seseorang”
“Iya Ma, makasih untuk ijinnya”
“Iya, Sholatnya jangan ditinggal, makan yang teratur, jaga kesehatannya jangan terlalu sering makan yang pedas-pedas, jangan sering tidur malam-malam, jaga auratnya juga” timpal Ibuku
“Siappppp, oke deh” ucapku seraya memeluk Ibuku dan mencium pipi Ayahku dengan perasaan haru bahagia.
“Berangkat kapan? Dan ke Malukunya naik apa?”
“Besok ke Semarang dulu Ma, habis itu ke Bandung buat pembekalan dan setelah itu baru deh terbang ke Maluku naik pesawat”
“Pembekalan di Bandung berapa lama?”
“Kira-kira setengah bulan Ma, hitung-hitung persiapan agenda”
“Oh ya sudah, dari sekarang sana siapkan keperluannya!” perintah Ayahku, dan ku sambut dengan senyuman dan anggukan kepala.
Aku berlari dengan semangat 45. Gembira luar biasa, rasa yang pastinya tak bisa dibeli dengan apapun. Bukan hanya berhasil lolos Ekspedisi tahap administrasi, tapi saat kedua orang tuakku mulai percaya anaknya kini tumbuh dewasa dan percaya bahwa anaknya bisa memilih dan melakukan apapun yang disuka. Saat seperti ini yang aku tunggu sepanjang hidupku, yang aku inginkan.
Sepanjang perjalanan menuju warung mataku berbinar, senyumku melebar, hati rasanya berbunga-bunga dan badan rasanya ringan mengambang. Aku tak peduli tatapan semua orang yang melihatku, mungkin mereka bertanya-tanya ada gerarangan apa yang membuat keadaanku sedemikian rupa. Aku tak peduli yang aku fikirkan adalah Bergegas menuju kewarung, mengambil keperluan yang ada. Dari mulai perlengkapan mencuci dan mandi sampai keperluan mempercantik diri. Seperti; sabun cuci, sikat cuci, pewangi, sabun mandi, sikat gigi, pasta gigi, sampo, pencuci muka, minyak wangi, dan bedak tabur. semua ku ambil secara geratis dari warung milik ibuku walau dalam jumlah banyak sekalipun.
Ku kumpulkan semuanya dalam kantong plastic warna hitam sebelum nanti ku masukan dalam ransel coklatku. Setelah merasa cukup komplit ku berlari lagi kearah kamarku dan merapikan pakaian yang bisa ku bawa untuk kegiatan Ekspedisi. Mencoba mengingat-ngingat kebutuhan apa saja yang harus aku penuhi dan sekiranya bisa ku dapatkan dari warung ibuku. “Ya, aku ingat. Obat-obatan dan makanan”, aku menuju warung kedua kalinya, berlari masih dengan semangat yang sama.

@

Allah maha penyayang lagi maha pengasih, yang maha sempurna. Semua yang ada didunia tak ada yang luput dari jangkauannya dan tak ada kata “Tak” baginya didunia. Allah maha besar, maha tau. Yang bisa membolak-balikan hati manusia. Yang bisa melimpahkan karunia kepercayaan dihati kedua orang tuaku. Mereka yang Setelah sekian lama menahanku untuk ikut dan melakukan apapun yang ku mau. Kini mengijinkankanku dan melepasku. Mendengarkan permintaanku dan mendoakanku untuk kesuksesanku dan kelancaranku dalam kegiatan Ekspedisi.

Facebook Comments