Jejak Kisah dan Perjalanan Mantan Santri

Tidak ada lagi kebahagiaan dalam hidupku, lelakiku pergi. Tak adalagi bahu untukku bersandar, karena aku melakukan kesalahan yang membuatnya tak mungkin lagi mencintaiku, aku memang bukan wanita yang baik untuknya. Mencintai Itu Merelakannya Bahagia “serius?, kita berpisah Non?” “Kamu sadarkan?” “Iya, aku sadar. Buat apa kita bersama kalau prinsip kita sudah beda?” “Ok, saya terima. […]

Read more...

§800 · Januari 30, 2015 · Cerpen · 4 comments ·


KOMSOS- Hari Pertama Payahe, 3-03-14 Berusaha, mencoba dan bersabar Berharap selalu diberi kemudahan dan kelancaran disetiap aktivitas “Tim KOMSOS kita besok pagi terpaksa harus dibagi 2 tim, tim satu yang terdiri dari Praka Mar Danna M, Kopda Hamzah L, Briptu Mustari Ghani, Sertu M. Najar, Safrudin, Fadlun, dan Chalimatus Sadiyah dan selebihnya masuk di tim […]

Read more...

§754 · Mei 30, 2014 · Cerpen · Komentar Dinonaktifkan pada Renungan Saat Pengambilan Data di PAYAHE ·


Harap- harap Cemas Semarang, 23 Januari 2014 Ekspedisi NKRI 2014 koridor Maluku dan Maluku Utara yang tak lama lagi akan dilaksanakan membuatku seakan stres menyiapkan segala persyaratannya. Maklum belum lama ini ku dapatkan informasi tentang kegiatannya. Seakan berburu dengan waktu. Tuntutan untuk berbagai keperluan administrasi harus dilengkapi seperti menyiapkan Foto, Materai, FC Hasil Study Mahasiswa, […]

Read more...

§746 · Mei 19, 2014 · Cerpen · Komentar Dinonaktifkan pada Bab 2, Cerita Dloen ·


“ satu kata buat kamu, PUAS!” Kau tau, apa yang membuatnya marah saat ini kepadaku? Mungkin kau tak percaya jika ku katakan hal ini kepadamu. Bayangkan saja aku yang tadi pagi sakit perut, sempat diare sampai terbujur kaku diatas tempat tidur dan merelakan presentasi waktuku begitu saja, malah disemprot habis-habisan, dinasehatin seperti habis mencuri ayam […]

Read more...

§727 · Juli 16, 2013 · Cerpen · Komentar Dinonaktifkan pada Cerpen Dloen- Yola, Gadisku. Tapi…. ·


“Bang, beli minumnya dong!” “apa?” alun menunjuk minuman yang dimaksud. Lalu, dia merogoh tasnya, tetapi tiba-tiba wajahnya mendadak pucat. Dompetnya hilang. Pedagang asongan yang lama menunggu, akhirnya kesal juga. Dia ambil kembali minumannya sambil mengomel. “Kalau nggak punya uang, jangan belagu! Tampang aja kayak orang kaya!” Kalau saja tidak malu, ingin sekali alun menjitak tukang […]

Read more...

§726 · Juli 16, 2013 · Cerpen · Komentar Dinonaktifkan pada Cerpen Dloen- Dompet yang Hilang dan Anak yang Malang ·


Masa kecil nino berkecukupan, anak orang kaya. Ia anak seorang bupati dikotanya, nama bapaknya solu sumardi, hidupnya amat enak, dia besar di sekitar perumahan. Ia tidak pernah tahu bagaimana hidup yang prihatin seperti orang dibawahnya. Bapaknya seorang tokoh masyarakat yang disegani, tak banyak waktu untuk nino bisa bersamanya. Ia sering ditinggal bapaknya untuk urusan kerja […]

Read more...

§716 · April 11, 2013 · Cerpen · Komentar Dinonaktifkan pada Contoh Cerita Anak Edisi Dloen ·


kemaren malam, 24 des 2011 tepat pukul 08.12 ditemani gerimis. dloen sehabis naik bus Menara Jaya jurusan tegal-jakarta. dloen sesampai berencana buat pulang ke kota kelahiran Indramayu, mobil yang ditumpangi hanya bisa sampai batas kabupaten, sehingga untuk sampai kerumah, dloen pun naik becak dari Keplongan. ” becak yu?” tanya tukang becak paruh baya berbaju coklat […]

Read more...

§518 · Desember 25, 2011 · Arena Kecil, Cerpen, Curhatan, story · 9 comments ·


RIIKIINNNGGG                                                                               .. Jam beker di kamar Ziva menjerit, yang membuat sang empunya kembali dari alam mimpi. Ziva mengambil benda yang selalu membangunkanya yang terletak di sebelah bantalnya dan mematikannya. Dengan masih setengah sadar, dia melirik jam yang ditanganya.

Read more...

§192 · Januari 12, 2009 · Cerpen · Komentar Dinonaktifkan pada BAB 1 ·


18-september-2008 kreeeeee……… pintu kamar udin terbuka, seseorang bertubuh tegap dengan bola mata yang teduh berada dibaliknya. “din, sedang mengerjakan pr yach?, nanti dulu nak, ntar bisa dilanjutkan lagi dan sekarang makanlah dulu bersama kami karna adikmu telah menunggu”, ajak sang ayah dengan nada yang lembut.

Read more...

§36 · September 17, 2008 · Cerpen · 2 comments ·