24 Nov 2017, 6:43pm
Curhatan story
by

Komentar Dinonaktifkan pada Kisahku seperti sinetron Indosiar

Kisahku seperti sinetron Indosiar

Sayangnya, surgaku bukan rumah kelahiranku.

Entahlah, aku bersikap adil atau tidak pada kedua orang tuaku. Pun salah atau tidaknya keputusanku. Tapi bagi sebagian tetanggaku, tidaklah benar jalan yang ku ambil sekarang.

Lalu.. Sudut mata manakah yang sebenarnya paling tajam melihat dan memahami…..

Sebenarnya aku hanya butuh penerimaan, penerimaan yang tulus.

Aku, Fadlun. Usia 6 hingga 12 tahun dibesarkan ditangan MADE (panggilan untuk nenek), tepatnya semenjak kelas 1 hingga kelas 6 SD. Iya, aku tak seberuntung teman-teman seusiaku saat itu. Mereka yang pulang pergi sekolah ditemani ibu nya. Dan setiap hari raya bisa mengenakan baju baru dan berkumpul bersama kedua orang tuanya.

Ayahku sangat sibuk, waktu pagi sampai sore Ia bekerja sedang sisanya dihabiskan untuk bersama teman teman nya. Lantas hari libur? Kemana kita? Adakah kita menghabiskan waktu bersama pergi ke pantai atau sekedar bercengkrama bersama?.

“tidak ada”.

Lantas kemana ibu, sosok yang aku panggil mimi itu. Dia mengorbankan dirinya untuk bekerja, membantu perekonomian keluarga. Maklum 1997 gaji ayah sebagai karyawan dipertamina tidaklah sama seperti sekarang. Terlebih saat itu Ayah memang mengalami pubertas kedua setelah menikah. Ia lebih sayang teman temannya dibanding kami.

Jadilah aku dan adikku yang saat itu masih berusia 2 tahun dibesarkan nenek yang berbeda dan ditempat terpisah.

Saat Mimi berhasil menabung dan mengumpulkan byk uang. Ia berhenti dan memutuskan membuka warung sembako. Alhamdulillah dunia seolah berputar. Keadaan ekonomi keluarga kami sangat baik.. Bahkan Ayahku Pun mendapat kenaikan gaji. Puji syukur 2003 – 2004. Semua terasa membaik. Aku mengenali ayahku lagi. Ia kembali menjadi laki-laki hero yang luar biasa penyayang. Mimi juga tampak menyukai dunia barunya.

Tapi sayang, lagi lagi bukan tanpa alasan mereka membiarkan ku jauh. Aku di masukan kedalaman pesantren untuk melanjutkan ke jenjang setara SMP di cirebon. Bertambah jauh lagi jaraknya, aku melanjutkan SMA di Brebes, lalu melanjutkan Kuliyah di Semarang dan lulus.

Mungkin karena aku terbiasa jauh, dan biasa di perantauan…..

Aku merasa bosan dirumah, aku merasa bukan aku yang sebenarnya. Aku merasa dibatasi, seolah berada didunia lain. Aku tak bisa menikmatinya, bahkan setelah aku mencoba. 1 bulan berasa satu tahun.

Menurutku, aku cukup berusaha menjadi anak yang penurut. Dengan pulang dan mengabdi dirumah setelah lulus Kuliyah. Bekerja ditempat yang tak jauh dari rumah, Lalu belajar bersama anak-anak kecil malamnya.

Selalu berusaha mengabaikan keinginan dan menikmati setiap waktunya. Aku bahagia, pun senang karena setiap saat lelah ada Zahro si Kriwil yang mengobati. Bs mendengar curhatan ubaid, bisa lihat perkembangan kesehatan ayah. Dan sedikit meringankan pekerjaan rumah ibu.
Tapi kiranya aku tak cukup sabar, aku tak cukup bisa mengendalikan diri ku. Ego ku Tinggi.

Beberapa pertengkaran kecil hampir setiap harinya tak bisa dihindari, karena berbeda ini dan itu, sedang harus seperti ini seperti itu. Jangan ini dan itu, padahal rasanya Sesak jika harus menceritakan kembali. Hanya karena hal-hal sepele yang tak sepaham, ribut, sahut menyahut dan berada mulut. Semua merasa pintar dan benar, pun aku. Kadang yang tak bisa mengontrol emosiku dan terlibat di dalamnya.

Aku berada di titik jenuh. Aku lelah mendengarnya. Aku lelah terlibat didalam ya. Aku ingin kembali, kembali pergi dan menjauh. Tanpa berusaha menjadi orang lain.

Indramayu, 24 November 2017

Facebook Comments