Sebagai Seorang Anak, Aku…

Aku tak pernah menyesal sdh dilahirkan, bahkan aku sgt bersyukur. Aku tak mengingkari bahwa apa yang ku dapat selama ini kiranya atas doa dan ridha orang tuaku, pun bs sampai pd titik ini itu berkat kasih sayang, kerja keras, doa dan cinta mereka.

Bahkan diusia ayah yang memasuki kepala 7 beliau masih bersemangat mencari nafkah, setelah pensiun dr Pertamina tidak membuatnya menikmati hari tua, tapi sebaliknya. Ia tetap berusaha agar apa yg anak sulung nya dapat pun bisa dirasakan anak Bungsunya, Zahro si Kriwil ku. Selepas sholat subuh, setiap harinya selalu berjualan bakau dipasar Kedokan hingga pukul 8 pagi, dan tanpa libur kecuali hujan besar dan sakit.

Sedang ibuku, perempuan luar biasa yang tak pernah lelah. Selain menjadi ibu untuk merawat Zahro, dan istri untuk ayahku. Ia juga menjadi Ibu rumah tangga yang mengurus semuanya sendirian, nyapu, ngepel, nyuci piring, nyuci baju, masak, mengantar dan menjemput sekolah zahro, dan menjaga warung sembako. Bekerja dari selesainya subuhan sampai jam 9 malam, setiap hari tanpa tidur siang dan mengenal libur. Continue Reading →