Jejak Kisah dan Perjalanan Mantan Santri

Aku, seorang anak usia 6 Tahun yang harus rela ditinggal jauh ibu kandungnya untuk pergi ke Saudi Arabiah merantau menjadi TKW,

Aku yang semasa Sekolah Dasar kelas satu harus menahan Rindu, Iri dan sedih  melihat yang lain masih diantar Sekolah, Disuapi dan dipakaikan sepatunya.

Aku yang selalu menutup telinga ketika semua anak mengejek bahwa aku seorang anak gadis yang tanpa Ibu.

Aku yang selama 5 Tahun menyaksikan Ayahku berubah menjadi Gila perempuan dan Judi, sedang Ibu yang sedang mengusahakan masa depan kami.

Aku, setiap malam dan sholatku berdoa agar diberikan kesadaran pada Ayahku, dan diberikan kekuatan pada ibuku dan mengembalikan keluarga kami bahagia dan rukun.

2006 Ibuku kembali, kerumah kami Indramayu dan Ayahku menjadi Kiyai

besar harapan dan mimpi tumbuh didalamnya, tapi kiranya takdirpun tak membiarkan kita bersama. Ayah yang saat itu sudah berubah karena kecelakaan saat dinasnya berharap agar Sekolah Menengah Pertamaku di Pesantren, padahal aku baru menikamti bahagia dan mengobati rinduku.

SMP ku di Tarbiyatul, Cirebon. 3 tahun ku selesaikan tanpa kendala hingga akhirnya melanjutkan lagi SMA di Brebes, Al-hikmah.

saat di Al-hikmah, ada rahasia yang masih ku sembunyikan hingga kini pada kedua orang tuaku, mereka sungguh tak tahu jika aku telah gagal menjadi bagians antri didalamnya. dalam perjalananku ada halangan yang ku buat sendiri… entah, aku tak bisa menyalahkan siapapun lagi… kiranya itu takdir, allah telah menggariskannya. di saat kelas 3 aku terusir dan harus pindah ke MA Ma’hadut Tholabah Babakan…..

dan Alhamdulillah 2016 bahkan aku bisa menyelesaikan kuliyahku di UIN Walisongo Semarang.

Aku telat lulus, aku sibuk dengan urusan organisasi dan pengabdian. aku hampir mengecewakan kedua orang tua lagi karenanya. padahal diusia mereka menginginkan anaknya cepat bisa bekerja, membantu biaya ekonomi keluarga kami. entahlah aku….

Aku cukup menyesalinya. tapi karena itu aku harus jujur. aku bisa mendapatkan banyak hal dari proses itu. aku memiliki banyak pengalaman dan teman. aku bisa pergi ke Indonesia bagian Timur- Tidore Kepulauan, Maluku Utara. dan aku bisa menikmati berbagai jenis transportasi dari mulai Pesawat Herkules, Boing, Kapal Laut, Speadboat, Prahu, Bis, Angkot, dkk, pun bisa mengetahui beberapa Suku, Budaya, Bahasa dan kebiasaan diluar dari kampung halamanku. aku pun mengenal sosok-sosok dan bercengkramah dgn mereka. Ah….. entahlah

aku untuk soal cinta, aku sudah mengenal nama itu sejak usia 12 tahun, bahkan mulai menjalin hubungan saat di SMP padahal di pesantren, selama dua tahun harapanku di tarik ulur oleh seniorku Muzani, tapi aku sangat mencintainya, bahkan saat ada beberapa sosok menawarkan cinta yang lain aku menolak, sebutlah beberapa nama yang telah aku kecewakan saat itu, ada Domble, Ramdhan, Jani, Faisal, Aang, dan Ka A.

berbeda saat SMA, aku menemukan nama-nama baru org yang mencintaiku seperti ada Miftah, Nas, Coco, Dan, dan Aku lupa. tapi ingatan ku masih tajam jika ditanya soal terusirku dari Al-hikmah karena salah satu nama dari mereka.

saat kuliyah. bahkan aku pernah sangat mencintai satu nama hadi, bahkan aku sudah sangat berharap pada hubungan kami. sangat sangat….. hingga kesakitan yang berulang selalu membuatku patah dan menangis.

ada yang salah dalam diriku, memang. aku seseorang yang selalu ingin dimanja dan diperhatikan dan mungkin itulah yang membuat beberapa orang akhirnya meninggalkanku dan memilih pergi.

dan aku sangat berharap hubungan yang sedang aku bangun saat ini tidak hanya lebih lama ketimbang yang ku jalani dengan sesorang setelah hadi, seperti Haydar dan Belammy. aku berharap Allah memantapkan hatiku dan menjaganya.

Tentang Aku, masih Entahlah….

 

 

§1201 · Agustus 19, 2017 · Curhatan · · [Print]

Comments are closed.