1. PENDAHULUAN

Secara mendasar Gender berbeda dari jenis kelamin biologis. Jenis kelamin biologis merupakan pemberian kita dilahirkan sebagai seorang laki-laki atau seorang perempuan. Tetapi, jalan yang menjadikan kita maskulin atau feminine adalah gabungan blok-blok bangunan biologis dasar dan interpretasi biologis oleh kultur kita. Setiap masyarakat memiliki berbagai “naskah” (scripts) untuk diikuti oleh anggotanya seperti mereka belajar memainkan peran feminin atau maskulin, sebagaimana halnya setiap masyarakat memiliki bahasanya sendiri. Sejak kita sebagai bayi mungil hingga mencapai usia tua, kita mempelajari dan mempraktikan cara-cara khusus yang telah ditentukan oleh masyarakat bagi kita untuk menjadi laki-laki dan perempiuan. Gender adalah seperangkat peran yang, seperti halnya kostum dan topeng di teater, menyampaikan kepada orang lain bahwa kita dalah feminin atau maskulin. Perangkat perilaku khusus ini yang mencakup penampilan, pakaian, sikap, kepribadian, bekerja di dalam dan diluar rumah tangga, seksualitas, tanggung jawab keluarga dan sebagainya secara bersama-sama memoles “peran gender” kita.

Begitu lahir, kita mulai mempelajari peran gender kita. Dalam satu studi laboratori mengenai gender, kaum ibu di undang untuk bermain dengan bayi orang lain yang didandani sebagai anak perempuan atau laki-laki. Tidak hanya gender dari bayi itu yang menimbulkan bermacam-macam tanggapan dari kaum perempuan, tetapi perilaku serupa dari seorang bayi ditanggapi secara berbeda, tergantung bagaimana ia didandani. Ketika si bayi didandani sebagai laki-laki, kaum perempuan tersebut menanggapi inisiatif si bayi dengan aksi fisik dan permainan. Tetapi ketika bayi yang sama tampak seperti perempuan dan melakukan hal yang sama, kaum perempuan itu menenangkan dan menghiburnya. Dengan kata lain, sejak usia enam bulan anak-anak telah direspon menurut stereotipe gender.

Sebagai orang dewasa kita cenderung mempercayai bahwa kita hidup dengan kadar kebebasan yang signifikan, bahwa kita bebas memilih cara berperilaku, cara berpikir, dan memilih peran gender. Kita juga menganut pandangan umum dunia bahwa jalan kita untuk menjadi feminin atau maskulin merupakan sesuatu yang “alami” akibat langsung karena dilahirkan secara biologis sebagai laki-laki atau perempuan. Yang jelas, suatu masyarakat dapat memiliki beberapa naskah yang berbeda, tetapi nilai inti dari suatu kultur, yang mencangkup pesan gender berlangsung dari generasi ke generasi seperti halnya bahasa.

  1. RUMUSAN MASALAH
  2. Pengertian Peran Gender
  3. Bentuk-bentuk Peran Gender

  1. PEMBAHASAN
  2. Pengertian Peran Gender

Peran Gender adalah pola perilaku yang ditentukan bagi seseorang yang mengisi kedudukan tertentu (R. Sarbin). Umpamanya kedudukan sebagai dosen, rector, ketua program, menurut sejumlah perilaku yang disesuaikan pada kedudukannya. Dalam setiap masyarakat, perempuan dan laki-laki ditentukan untuk mengisi peran seksual tertentu. tergantung dari lingkungan budaya, tingkatan sosial, ekonomi, umur, agama, dan sebagainya. Peran seksual terdiri dari sejumlah perilaku yang diharapkan dari seorang dalam mengisi suatu posisi atau kedudukan, seperti ibu lurah, ulama, dan pengusaha.[1]

Salah satu hal yang paling menarik mengenai peran gender adalah peran-peran itu berubah seiring waktu dan berbeda antara satu kultur  dengan kultur lainnya. Peran itu juga amat dipengaruhi oleh kelas sosial, usia dan latar belakang etnis. Di inggris abad ke Sembilan belas, ada anggapan bahwa kaum perempuan tidak pantas bekerja di luar rumah guna mendapatkan upah. Tetapi pandangan yang lebih kemudian menunjukan bahwa anggapan ini hanya berlaku bagi perempuan kelas menengah dan kelas atas. Kaum perempuan kelas bawah diharapkan bekerja sebagai pembantu (servants) bagi kaum perempuan yang  dilahirkan tidak untuk bekerja sendiri.

Seperti contoh di Banglades, Banyak perempuan Muslim menganggap tidak pantas untuk terlibat dalam lapangan kerja yang dibayar. Namun ada banyak perempuan muslim lainnya terpaksa bekerja seringkali sebagai pembantu rumah tangga sebagai masalah pertahanan ekonomi. Dengan kata lain, kelas (class) nyaris selalu berkaitan dengan urusan memutuskan peran gender yang pantas karena memiliki jenis kelamin (sex) biologis tertentu.

Kenyataan bahwa masyarakat yang berbeda memiliki banyak gagasan yang berbeda tentang cara yang sesuai bagi perempuan dan laki-laki untuk berperilaku seharusnya, hal ini memperjelas tentang sejauh mana peran gender bergeser dari asal-usul nya kedalam jenis kelamin biologis kita. Sementara setiap masyarakat menggunakan jenis kelamin biologis sebagai titik tolak penggambaran gender, tidak ada dua kultur yang akan benar-benar sepakat tentang apa yang membedakan satu gender dari gender yang lain. Sebagian masyarakat lebih preskriptif mengenai peran gender ketimbang sebagian yang lain, yang memiliki lebih banyak naskah atau kemungkinan bagi perilaku feminin dan maskulin yang bisa diterima.

  1. Bentuk-Bentuk Peran Gender

Bem ( Dalam Basow, 1992) menyatakan bahwa terdapat dua model perbedaan pandangan peran gender di dalam menjelaskan mengenai maskulintas dan feminitas, dalam kaitannya dengan laki-laki dan perempuan, yaitu model  tradisional dan model non tradisional (Nauly, 2003).

Model Tradisional memendang feminitas dan maskulintas sebagai suatu dikotomi . model tradisional menyebutkan bahwa maskulintas , dan feminitas merupakan titik-titik yang berlawan pada sebuah kontinum yang bipolar. Pengukuran yang ditujukan untuk melihat maskulintas dan feminitas menyebutkan derajat yang tinggi dari feminitas menunjukan derajat yang rendah dari maskulintas (Nauly,2003). Pandangan ini membagi tugas secara kaku berdasarkan jenis kelamin. Laki-laki yang mempunyai pandangan peran gender tradisional tidak ingin erempuan menyamakan kepentingan dan minat diri sendiri dengan kepentingan keluarga secara keseluruhan. Istri diharapkan mengakui kepentingan dan minat suami adalah untuk kepentingan bersama dalam arti lain kekuasaan kepemimpinan dalam keluarga berada ditangan suami.[2]

Model nontradisional menyatakan bahwa maskulinitas dan feminitas lebih sesuai dikonseptualisasikan secara terpisah, dimana masing-masing merupakan dimensi yang independen. Pembagian ini tidak ada lagi pembagian tugas yang berdasarkan jenis kelamin, kedua jenis kelamin diperlakukan sejajar. Model yang ini memandang feminitas dan maskulintas bukan merupakan sebuah dikotomi, hal ini menyebabkan kemungkinan untuk adanya pengelompokan yang lain, yakni Androgini adalah kondisi sosial dan psikologis dimana individu dapat berpikir, merasa, dan bertingkah laku secara instrumental maupun ekspresif tanpa terikat pada jenis kelaminnya yaitu laki-laki atau perempuan yang dapat memiliki cirri-ciri maskulinitas sekaligus ciri-ciri ferminitas. Model nontradisional ini dikembangkan sekitar tahun 1970-an oleh sejumlah penulis (Bem, 1974) yang menyatakan bahwa maskulinitas dan feminita lebih sesuai dikonseptualisasikan secara terpisah, karena masing-masing merupakan dimensi yang independen.

Berdasarkan pandangan ini, Sandra Bem (dalam Basow, 1992) mengklasifikasikan tipe peran gender menjadi 4 Bagian, yaitu:

  1. Sex-typed: seorang yang mendapat skor tinggi pada maskulinitas dan skor rendah pada feminitas. Pada perempuan, yang mendapatkan skor tinggi pada feminitas dan mendapat skor rendah pada maskulinitas.
  2. Cross-sex-typed: laki-laki yang mendapatkan tinggi pada feminitas dan skor pada maskulinitas. Sedangkan pada perempuan, ynag memiliki skor yang tinggi pada maskulinitas dan skor yang rendah pada feminitas.
  3. Androgini: laki-laki dan perempuan yang mendapatkan skor tinggi baik pada maskulinitas maupun feminitas.
  4. Indifferentiated: laki-laki dan perempuan yang mendapat skor rendah baik pada maskulinitas dan feminitas.[3]
  1. KESIMPULAN

peran gender adalah peran-peran itu berubah seiring waktu dan berbeda antara satu kultur  dengan kultur lainnya. Peran itu juga amat dipengaruhi oleh kelas sosial, usia dan latar belakang etnis.

Bem ( Dalam Basow, 1992) menyatakan bahwa terdapat dua model perbedaan pandangan peran gender di dalam menjelaskan mengenai maskulintas dan feminitas, dalam kaitannya dengan laki-laki dan perempuan, yaitu model  tradisional dan model non tradisional (Nauly, 2003).

Model Tradisional memendang feminitas dan maskulintas sebagai suatu dikotomi . model tradisional menyebutkan bahwa maskulintas , dan feminitas merupakan titik-titik yang berlawan pada sebuah kontinum yang bipolar.

Model nontradisional menyatakan bahwa maskulinitas dan feminitas lebih sesuai dikonseptualisasikan secara terpisah, dimana masing-masing merupakan dimensi yang independen. Pembagian ini tidak ada lagi pembagian tugas yang berdasarkan jenis kelamin, kedua jenis kelamin diperlakukan sejajar.

  1. PENUTUP

Demikianlah makalah ini kami susun, kami menyadari bahwa dalam makalah ini masih jauh dari kesempurnaan penulis sebagai manusia biasa yang masih dalam proses pembelajaran. Maka dari itu saya selaku penulis makalah ini mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun demi kesempurnaan dan kemajuan kami dalam proses pemblajaran.

Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Lakilaki.or.idDAFTAR PUSTAKA

  • Supriyantini, S. 2002. Hubungan Antara Pandangan Peran Gender dengan Keterlibatan Suami dalam Kegiatan Rumah Tangga. Jurnal Psikologi, 1-21.
  • Mansour Fakih, DR. 2007. Gender dan Pembangunan. Yogyakarta : Pustaka Pelajar Offset
  • http://kumpulan-materi.blogspot.com/2012/02/peran-gender.html
  • Ihromi, Kajian Wanita Dalam Pembuatan, (Jakarta, yayasan obor, 1995) hlm 70-71

[1] Ihromi, Kajian Wanita Dalam Pembuatan, (Jakarta, yayasan obor, 1995) hlm 70-71

[2] Supriyantini, S. 2002. Hubungan Antara Pandangan Peran Gender dengan Keterlibatan Suami dalam Kegiatan Rumah Tangga. Jurnal Psikologi, 1-21.

[3] http://kumpulan-materi.blogspot.com/2012/02/peran-gender.html

dloenInformasiPENDAHULUAN Secara mendasar Gender berbeda dari jenis kelamin biologis. Jenis kelamin biologis merupakan pemberian kita dilahirkan sebagai seorang laki-laki atau seorang perempuan. Tetapi, jalan yang menjadikan kita maskulin atau feminine adalah gabungan blok-blok bangunan biologis dasar dan interpretasi biologis oleh kultur kita. Setiap masyarakat memiliki berbagai “naskah” (scripts) untuk...Jejak Kisah dan Perjalanan Mantan Santri