kritik pemikiran Ulama Kalam ttg Ru’yah

I PENDAHULUAN

by:dloen

 

Ru\’yah secara bahasa berarti melihat dengan mata kepala ataupun mata hati Sehingga ru\’yatullah berarti melihat ALLAH dengan penglihatan mata ataupun penglihatan hati. Kemudian timbulnya suatu pertanyaan Apakah Allah dapat dilihat ? bisakah itu terjadi ? Kalau bisa dimanakah ? . Permasalahan ini menjadi perdebatan antara Mu’tazilah, Maturidiah dan As\’ariyah serta kelompok yang sepaham dengannya. Untuk itu perlu kiranya kami membahas permasalahan ini agar kita umat islam mempunyai ‘aqidah yang lurus berdasarkan pemahaman           ¹ aqidah tentang ru’yatullah.

 

 

II PERMASALAHAN

1. MASALAH RU\’YAH

A. MENURUT PEMIKIRAN MU\’TAZILAH

B. MENURUT PEMIKIRAN AL-ASY\’ARIYAH

C. MENURUT PEMIKIRAN AL-MATURIDI

D. MENURUT PEMIKIRAN RUSYD

2. KRITIK PEMIKIRAN ULAMA KALAM TENTANG RU\’YAH

III PEMBAHASAN

 

1. MASALAH RU\’YAH ( Melihat Tuhan dengan Mata Kepala )

A. MENURUT PEMIKIRAN MU\’TAZILAH

 

Mereka mengingkari ru\’yah, karena selalu berpegang teguh prinsip dan pikiran yang logis, mereka mengingkari kezisiman, kemudian mengingkari arah dan pada akhirnya tentu mengingkari ru\’yah.

Alasan syara\’:

 

 

  1. firman allah dalam surat al-a\’raf: 143

 

artinya: tidak sanggup engkau melihat ku

 

  1. firman allah dalam surat al an\’am

artinya: ia tidak dapat diliputi mata kepala, tetapi ia yang meliputi mata kepala.

 

Bagi orang-orang diatas menurut mu\’tazila adalah ayat muhkam, sedang ayat yang lainnya berlawanan lahirnya, dianggap mutasyabihat yang harus dita\’wilkan.

Alasan pikiran:

  1. apabilah allah bukan jisim, ia tidak beranak, sehingga tidak dapat dilihat dari manusia, sesuatu yang dilihat harus ada pada arah tertentu dari orang yang melihat, tegasnya ru\’yah hanya dapat terjadi diatas benda
  2. sesuatu yang dapat dilihat, memerlukan syarat-syarat antara lain yang dapat dilihat berwarna dan sinar, hal tersebut tidak mungkin pada allah.

 

 

B. MENURUT PEMIKIRAN AL-ASY\’ARIYAH

 

Al asy\’ari menciptakan arah bagi allah sehingga mengakui adanya ru\’yah diakhirat, bukan didunia.

 

Alasan syara\’:
firman allah: ketika itu hari kiamat muka berseri-seri sambil melihat tuhannya(naadzi       ­-roh)           . (qiyamah:22,23).

Menurut asy\’ari hal tersebut membuktikan adanya ru\’yah , hal ini tentunya bertentangn dengan almu\’tazilah yang menganggap ayat itu butuh pentawilan.

 

Alasan pikiran:

a. Tokoh aliran asy ariyah, al-ghozali berpendapat bahwa sesuatu yang dilihat tidak harus pada arah yang melihat.

b. Al juwayni         bahwa sesuatu yang dilihat mata, adakalanya karena segi bendanya saja atau segi warna nya saja.

 

 

C. MENURUT PEMIKIRAN AL-MATURIDI

 

Ia berpendapat bahwa ru\’yah telah terjadi dan disepakati oleh para ahli sunnah, ru\’yah tidak mungkin dengan mata kepala tetapi dengan hati dan fikiran sehingga tidak mungin menimbulkan kejisiman allah, ru\’yah terjadi tanpa bagaimana dan dimana.

Alas an syara\’:

Surat al an\’am: 103, yang didasarkan penolakan aliran mu\’tazilah sebelumnya sedangkan pemikirannya mirip dengan pemikiran asy ariyah.

 

 

 

D. MENURUT PEMIKIRAN RUSYD

 

Ia menolak dengan pemikiran asy ariyah bahwa melihat allah diakhirat tidak memerukan syarat-syarat material untuk dapat dilihat dengan mata kepala, ia menolak pula dengan pendapat al juwaiyah yang sesuatu dapat dilihat bukan karena warna bukan pula karena bendanya, tetapi karena ia wujud.

Ibnu rusyd berpendapat sesuatu dapat dilihat karena ia berupa benda yang berwarna, tegasnya cukup dikatakan bahwa allah itu cahaya dan bumi sesuai dalil syara\’.

 

 

 

3. KRITIK PEMIKIRAN ULAMA KALAM TENTANG RU\’YAH

Al- Qur\’an adalah kitab allah yang diwahyukan kepada nabi Muhammad untuk menjadi petunjuk dan bimbingan bagi umat manusia seluruhnya, didalam terdapat berbagai tuntutan dan ajaran yang apabila ditaati dengan baik, manusia akan memperoleh kebahagiaan didunia dan akhirat.

Diantara ajaran al-Qur\’an yang penting adalah seruan dan himbauan kepada seluruh umat manusia untuk menyembah hanya kepada allah, tidak menduakannya dengan suatu apapun, dalam hal ini al-Qur\’an dengan berbagai ayatnya mengajak manusia mempergunakan akalnya untuk mengamati dan merenungkan segala peristiwa yang terjadi dalam kosmos ini, bahkan juga hal-ihwal dirinya sendiri karena didalamnya terkandung bukti-bukti yang kuat dan meyakinkan tentang adanya allah yang maha esa, pencipta alam semesta[1]

Selain itu qur\’an juga menjelaskan bahwa allah mempunyai sifat-sifat atau nama-nama yang maha baik (al-asmaul-husnah),melalui sifat sifat ini,kita dapat mengetahui corak hubungan antara allah sebagai kholik dengan alam dan manusia sebagai makhluk .dalam hal ini al-quran menetapkan sifat-sifat allah yang juga merupakan sifat-sifat lazim berlaku dalam dunia manusia ,sebagai tanda adanya keakraban diantara ke duanya,dan jika dalam hal ini hanya pada kata-kata lahiriyah semata,tidak menyentuh hakikat.alquran dengan tegas menyatakan bahwa tidak ada suatu jua pun dari makhluk ini yang dapat ,menyamai-Nya, baik dzat,sifat maupun fi;ilnya.

Walaupun Manusia diberi Ilham bahwa Akal dan pikirannya menjadi pokok bagi kehidupan didunia, hal tersebut menggerakan rokh dan naluri untuk merasakan kehidupan yang baka dan abadi, merasakan keadaanya bila sampai kesana, bagaimana jalan dan cara mendapat petunjuk tentang itu sedang barang itu sesuatu yang gaib dan dalil itu sangat sukar dan lemah sekali

Point yang harus dimengerti mengapa alQuran saja tidak menyinggung tentang ru\’yah, karena itu adalah sesuatu yang musykil untuk dimengerti oleh akal manusia yang sangat singkat karena itu juga tidak ada manfaatnya bagi manusia dalam kehidupan amaliyahnya,

. Dengan itu lah para rosul diutus untuk membimbing akal manusia untuk mengenal allah dan sifat-sifatnya, memberikan batas-batas tertentu dimana orang wajib berhenti dalam menggali pengetahuan tuhan guna menentramkan hati serta tidak menyia-nyiakan kekuatan akal yang diberikan allah pada makhluk ciptaannya.

 

 

 

KESIMPULAN

 

setiap aliran yang ada dalam islam memiliki pandangan dan kritikan tersendiri terhadap ru\’yatullah (melihat Allah) misalnya dari aliran mu\’tazilah yang lebih mengutamakan rasionya yang tidak setuju jikalau manusia bisa melihat Allah baik dengan mata kepala ataupun mata hati karena tidak masuk akal, lain lagi dengan asy\’ariyah yang setuju bila manusia bisa melihat Allah tapi di akhirat kelak.

 

 

 

IV PENUTUP

Demikian makalah ini kami susun,demi kemajuan yang akan datang saya mengharap saran dan kritik yang membangun. kami ucapkan banyak terima kasih atas peran sertanya.

 

 

V DAFTAR PUSTAKA

–                                                                 Gulen, M, Fathullah, Menghidupkan Iman dengan mempelajari Tanda-Tanda-NYA, Murai Kencana : Jakarta, 2002

–                                                                 Romas, A. Ghofir, Ilmu Tauhid, Iain Walisongo: Semarang, 1997

–                                                                 Daudy, Ahmad, M. A, Allah dan Manusia, Rajawali: Jakarta, 1983


[1] Daudy, akhamad ;           Allah dan manusia dalam konsep syekh nurudin ar-raniry            ; Jakarta; 1983,hlm ,63

Facebook Comments